Black Box
Catatan Pribadi Mendirikan, Membangun, dan Mengelola BIsnis

Etika Bisnis dalam Al-Quran

Pekerjaan apapun selalu menuntut Anda untuk bekerja dengan etika, moral dan integritas yang tinggi, tidak peduli jabatan Anda apa. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran surat An nisa ayat 29 :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS. An Nisa: 29).

Saya mencoba memberikan deskripsi yang relate dengan kehidupan banyak orang termasuk saya

Di dalam bisnis ada yang disebut dengan etika bisnis. Sebuah mata pelajaran yang tidak diajarkan di sekolah tapi harus selalu dilakukan oleh setiap pebisnis. Etika ini menyangkut keterkaitan kita dengan orang lain atau pebisnis lain, bisa juga dengan konsumen. Secara bahasa etika bisnis merupakan nilai-nilai moral yang harus dipegang teguh oleh pelaku bisnis dalam setiap melaksanakan kegiatan operasionalnya. Nilai moral ini juga harus bersifat universal, diakui secara konsensus oleh banyak orang. Tidak boleh kita membicarakan dan melakukan self-claimed tentang etika hanya dari sisi personal kita sebagai subjek, tapi harus juga dilihat dari POV orang lain yang mungkin akan menjadi objek etika bisnis tersebut.

Sebuah bisnis yang tidak memiliki landasan atau fondasi etika bisnis akan kehilangan banyak kepercayaan yang sudah diberikan. Orang akan dengan memberikan justifikasi bahwa Anda adalah orang yang curang. Dan percayalah bahwa kepercayaan mitra atau konsumen Anda yang sudah Anda bangun sekian tahun akan dengan mudahnya hancur hanya karena Anda dicap sebagai orang yang tidak punya etika bisnis.

Dalam praktiknya, perniagaan yang dilakukan suka sama suka ini sering dianggap hal kecil dan sepele. Sebagai contoh riil adalah proses tawar-menawar yang dilakukan ibu-ibu kompleks dengan tukang sayur. Meski tidak selalu, tapi kerap kali pembeli menawar harga secara brutal dan terkesan memaksa penjual untuk menjual barang dagangannya dengan harga lebih murah. Jika penjual tidak suka tapi terpaksa menjualnya maka inilah yang mungkin ingin peringatkan oleh Allah dalam surat An-Nisa ayat 29 tersebut.

Jika kita melihat sepak terjang Rasulullah SAW dalam berbisnis, itu akan sangat menginsipriasi kita. Bagaimana Nabi Muhammad di usia 12 tahun sudah melakukan kegiatan ekspor barang dengan pamannya. Tapi yang paling menjadi top of mind nya dari diri Rasulullah adalah dengan gelar Al-Amin nya, yakni orang yang dapat dipercaya. Banyak buku yang mengisahkan bahwa ketika berniaga, Rasulullah begitu menghormati para pelanggannya, yang pada akhirnya semua merasa senang dan diuntungkan dengan perniagaan dengan Nabi Muhammad. Selalu jujur dan tidak pernah dzalim terhadap mitra-mitra bisnisnya. Sangat relate dengan surat An-Nisa ayat 29 di atas.

Ini tentu harus menjadi pembelajaran bagi saya khususnya dan yang membaca ini tentunya. Bahwa di dalam berniaga itu selalu ada aturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang disebut dengan etika bisnis. Kita boleh begitu berambisi untuk mendapatkan keuntungan dalam berniaga, tapi jangan dibumbui dengan pelanggaran-pelanggaran etika yang membuat keberkahan di dalam harta yang diperoleh menjadi hilang. Padahal keberkahan itulah sebetulnya ini dari perniagaan.

Share

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *